Real Indonesian Ladies »»
Recent Articles
Home » Posts filed under Fashion
Stella-Jay Menafsirkan Fashion dalam "Bosex"
Perancang busana Stella Rissa berkolaborasi dengan Jay Subyakto, menciptakan instalasi dan video, berjudul "Bosex". Tema fashion ditafsirkan Stella dan Jay dalam karya seni kontemporer, dipamerkan dalam Dysfashional pada 8-15 Mei 2011 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Perancang busana, biasanya, menghadirkan produk fashion, lalu diperagakan di panggung mode. Pameran seni kontemporer, Dysfashional #6 Jakarta, mencoba memberikan penyegaran bagi penggiat juga penggemar fashion, serta penyuka seni kontemporer di Jakarta. Di ajang ini, perancang busana Stella Rissa berkesempatan menampilkan karya yang tak seperti biasanya.
Dysfashional #6 Jakarta memang mengambil tema mode dan fashion, namun tanpa menghadirkan produk fashion dan peragaan busana. Lima seniman Indonesia terlibat dalam pameran seni kontemporer ini, tampil sejajar dengan belasan seniman Eropa lainnya. Jakarta, dipilih dua kurator Italia, Luca Marchetti dan Emanuele Quinz, sebagai lokasi pameran untuk keenam kalinya setelah Luxembourg (2007), Lausanne (2008), Paris (2009), Berlin dan Moskow (2010). Pameran seni kontemporer Dysfashional #6 Jakarta berlangsung 8-15 Mei 2011 di Galeri Nasional Indonesia.
Fashion sebagai refleksi diri
Perancang busana Stella Rissa, berkolaborasi dengan Jay Subyakto, memproduksi instalasi dan video berjudul "Bosex", selama satu minggu. Melalui instalasi bertema mode dan fashion ini, Stella terbebaskan dari aturan komersial dalam fashion. Stella bebas mengekspresikan dirinya sebagai seniman melalui kaya seni kontemporer terinspirasi dari mode dan fashion.
"Kalau ditanya apakah penggemar fashion menyukai karya ini atau tidak, saya cenderung tidak peduli apakah karya bisa diterima atau tidak. Karena karya seni ini lebih memberikan kebebasan berekspresi, tidak dibuat untuk kebutuhan jualan, sehingga memberikan kepuasan personal. Saya, bersama Jay, membuatnya tanpa beban. Beda ketika saya sebagai bekerja sebagai desainer, dalam membuat busana harus memikirkan kebutuhan pasar. Terlibat dalam pameran ini merupakan liburan batin, tanpa perlu memikirkan selera pasar," tutur Stella kepada Kompas Female di sela pembukaan pameran untuk media, Sabtu (7/5/2011) lalu.
Bagi Jay, terlibat dalam Dysfashional merupakan bentuk pembuktian bahwa seniman Indonesia bisa berkiprah di kancah internasional, namun tetap bebas bereksplorasi dengan penafsiran sendiri.
"Bosex" karya Stella dan Jay, menampilkan kotak besar terbuat dari keramik, dengan empat pintu melambangkan perempuan, laki-laki, dan androgini. Anda bebas menafsirkan karya seni ini. Namun bagi Stella, kotak ini menjadi refleksi diri, di mana pengunjung bisa bercermin melihat dirinya. Sama seperti konsep fashion, sebagai bentuk penonjolan karakter diri.
"Dalam fashion, orang ingin dilihat dan diperhatikan dari pilihan busananya. Berbusana dalam fashion adalah bentuk ekspresi menonjolkan kepribadian," jelas Stella menggambarkan "Bosex" sebagai bentuk refleksi diri sebagaimana fashion dalam persepsinya.
Kompas Female
Perancang busana, biasanya, menghadirkan produk fashion, lalu diperagakan di panggung mode. Pameran seni kontemporer, Dysfashional #6 Jakarta, mencoba memberikan penyegaran bagi penggiat juga penggemar fashion, serta penyuka seni kontemporer di Jakarta. Di ajang ini, perancang busana Stella Rissa berkesempatan menampilkan karya yang tak seperti biasanya.
Dysfashional #6 Jakarta memang mengambil tema mode dan fashion, namun tanpa menghadirkan produk fashion dan peragaan busana. Lima seniman Indonesia terlibat dalam pameran seni kontemporer ini, tampil sejajar dengan belasan seniman Eropa lainnya. Jakarta, dipilih dua kurator Italia, Luca Marchetti dan Emanuele Quinz, sebagai lokasi pameran untuk keenam kalinya setelah Luxembourg (2007), Lausanne (2008), Paris (2009), Berlin dan Moskow (2010). Pameran seni kontemporer Dysfashional #6 Jakarta berlangsung 8-15 Mei 2011 di Galeri Nasional Indonesia.
Fashion sebagai refleksi diri
Perancang busana Stella Rissa, berkolaborasi dengan Jay Subyakto, memproduksi instalasi dan video berjudul "Bosex", selama satu minggu. Melalui instalasi bertema mode dan fashion ini, Stella terbebaskan dari aturan komersial dalam fashion. Stella bebas mengekspresikan dirinya sebagai seniman melalui kaya seni kontemporer terinspirasi dari mode dan fashion.
"Kalau ditanya apakah penggemar fashion menyukai karya ini atau tidak, saya cenderung tidak peduli apakah karya bisa diterima atau tidak. Karena karya seni ini lebih memberikan kebebasan berekspresi, tidak dibuat untuk kebutuhan jualan, sehingga memberikan kepuasan personal. Saya, bersama Jay, membuatnya tanpa beban. Beda ketika saya sebagai bekerja sebagai desainer, dalam membuat busana harus memikirkan kebutuhan pasar. Terlibat dalam pameran ini merupakan liburan batin, tanpa perlu memikirkan selera pasar," tutur Stella kepada Kompas Female di sela pembukaan pameran untuk media, Sabtu (7/5/2011) lalu.
Bagi Jay, terlibat dalam Dysfashional merupakan bentuk pembuktian bahwa seniman Indonesia bisa berkiprah di kancah internasional, namun tetap bebas bereksplorasi dengan penafsiran sendiri.
"Bosex" karya Stella dan Jay, menampilkan kotak besar terbuat dari keramik, dengan empat pintu melambangkan perempuan, laki-laki, dan androgini. Anda bebas menafsirkan karya seni ini. Namun bagi Stella, kotak ini menjadi refleksi diri, di mana pengunjung bisa bercermin melihat dirinya. Sama seperti konsep fashion, sebagai bentuk penonjolan karakter diri.
"Dalam fashion, orang ingin dilihat dan diperhatikan dari pilihan busananya. Berbusana dalam fashion adalah bentuk ekspresi menonjolkan kepribadian," jelas Stella menggambarkan "Bosex" sebagai bentuk refleksi diri sebagaimana fashion dalam persepsinya.
Kompas Female
Sarah Burton Menikmati "Drama" Gaun Pengantin Kate
Meski harus bersembunyi dan merahasiakan karyanya, perancang Sarah Burton (kiri), mengaku menikmati drama gaun pengantin Catherine Middleton, Duchess of Cambridge.
Model gaun, termasuk siapa perancang gaun pengantin Catherine Middleton menjadi isu terhangat di pernikahan "dongeng" kerajaan Inggris, 29 April lalu. Pada Jumat minggu lalu, milyaran saksi mata, akhirnya, menikmati gaun sederhana rancangan Sarah Burton dari rumah mode Alexander McQueen. Gaun simpel elegan semakin mempercantik Catherine yang berhasil mencipta "drama" gaun pengantin.
Rupanya, si perancang, Sarah Burton, juga menikmati "drama" gaun pengantin ini. Terutama saat ia tertangkap kamera jurnalis, sedang memasuki hotel Goring, malam menjelang hari pernikahan agung itu. Sarah tertangkap kamera mengenakan topi bulu berukuran besar untuk menutupi wajahnya. Catherine konsisten merahasiakan siapa perancang di balik gaunnya. Perempuan 29 tahun ini memang dikenal mahir mencuri perhatian publik dengan caranya.
Meski kabar sudah beredar luas mengenai desainer Alexander McQueen di balik gaun Kate, Sarah tetap tak bergeming. Perancang ini pun akhirnya mengakui keterlibatannya dalam pernikahan kerajaan, saat hadir di ajang penghargaan Alexander McQueen, di Saks Fifth Avenue, New York, Rabu (4/5) lalu.
Kepada New York Post, Sarah mengakui paling menikmati masa di mana ia harus bersembunyi di balik topi. Ia pun mengakui, kerahasiaan mengenai gaun pengantin Kate juga membawa kesenangan tersendiri baginya. Maklum, perancang kenamaan ini harus merahasiakan pekerjaan besar, sejak pihak istana memintanya menyiapkan gaun pengantin Kate. Hingga akhirnya publik meyakini, adalah Sarah Burton di balik gaun istimewa tersebut. Kehadiran Sarah di hotel Goring menguak selubung ini.
Menurut Sarah, gaun tersebut dibuat dengan kontribusi Kate sebesar 50 persen. Kate yang kini bergelar Duchess of Cambridge ingin menunjukkan kepribadiannya dalam gaun pernikahannya dengan Pangeran William, Duke of Cambridge.
Sarah juga mengaku sang Duchess adalah sosok dengan kepribadian baik dan rendah hati, seperti halnya seluruh keluarga Middleton yang dikenalnya.
Sumber: dailymail.co.uk
Kompas Female
Model gaun, termasuk siapa perancang gaun pengantin Catherine Middleton menjadi isu terhangat di pernikahan "dongeng" kerajaan Inggris, 29 April lalu. Pada Jumat minggu lalu, milyaran saksi mata, akhirnya, menikmati gaun sederhana rancangan Sarah Burton dari rumah mode Alexander McQueen. Gaun simpel elegan semakin mempercantik Catherine yang berhasil mencipta "drama" gaun pengantin.
Rupanya, si perancang, Sarah Burton, juga menikmati "drama" gaun pengantin ini. Terutama saat ia tertangkap kamera jurnalis, sedang memasuki hotel Goring, malam menjelang hari pernikahan agung itu. Sarah tertangkap kamera mengenakan topi bulu berukuran besar untuk menutupi wajahnya. Catherine konsisten merahasiakan siapa perancang di balik gaunnya. Perempuan 29 tahun ini memang dikenal mahir mencuri perhatian publik dengan caranya.Meski kabar sudah beredar luas mengenai desainer Alexander McQueen di balik gaun Kate, Sarah tetap tak bergeming. Perancang ini pun akhirnya mengakui keterlibatannya dalam pernikahan kerajaan, saat hadir di ajang penghargaan Alexander McQueen, di Saks Fifth Avenue, New York, Rabu (4/5) lalu.
Kepada New York Post, Sarah mengakui paling menikmati masa di mana ia harus bersembunyi di balik topi. Ia pun mengakui, kerahasiaan mengenai gaun pengantin Kate juga membawa kesenangan tersendiri baginya. Maklum, perancang kenamaan ini harus merahasiakan pekerjaan besar, sejak pihak istana memintanya menyiapkan gaun pengantin Kate. Hingga akhirnya publik meyakini, adalah Sarah Burton di balik gaun istimewa tersebut. Kehadiran Sarah di hotel Goring menguak selubung ini.
Menurut Sarah, gaun tersebut dibuat dengan kontribusi Kate sebesar 50 persen. Kate yang kini bergelar Duchess of Cambridge ingin menunjukkan kepribadiannya dalam gaun pernikahannya dengan Pangeran William, Duke of Cambridge.
Sarah juga mengaku sang Duchess adalah sosok dengan kepribadian baik dan rendah hati, seperti halnya seluruh keluarga Middleton yang dikenalnya.
Sumber: dailymail.co.uk
Kompas Female
Oscar Lawalata: Gelisah dengan Nasib Kain Tenun Ikat
Pameran seni kontemporer bertema mode dan fashion, Dysfashional #6 Jakarta, menjadi wadah bagi Oscar Lawalata dan Davy Linggar menuangkan kegelisahannya.
Dysfashional #6 Jakarta mengambil tema mode dan fashion, namun tanpa menghadirkan produk fashion dan peragaan busana. Lima seniman Indonesia terlibat dalam pameran seni kontemporer ini, tampil sejajar dengan belasan seniman Eropa lainnya. Jakarta, dipilih dua kurator Italia, Luca Marchetti dan Emanuele Quinz, sebagai lokasi pameran untuk keenam kalinya setelah Luxembourg (2007), Lausanne (2008), Paris (2009), Berlin dan Moskow (2010). Pameran seni kontemporer Dysfashional #6 Jakarta berlangsung 8-15 Mei 2011 di Galeri Nasional Indonesia.
Perancang busana ternama Oscar Lawalata, menampilkan kursi kayu tradisional, yang biasa ditemui di ruang kelas sekolah. Bedanya, sembilan kursi ini bergambar motif tenun ikat Nusa Tenggara Timur, khususnya motif Timor, Sumba, Sabu, dan Alor.
"Pesannya adalah edukasi. Pendidikan mengenai budaya tidak didapatkan anak sejak kecil. Kursi sekolah melambangkan suasana kelas. Sementara motif tenun ikat pada kursi sekolah ini bermakna pendidikan budaya harus diajarkan sejak dini. Budaya, tradisi, tarian harus diajarkan ke generasi muda. Makna lainnya adalah profesi kreatif juga perlu dikenalkan agar tidak punah, termasuk penenun kain ikat di NTT ini. Anak perlu diajarkan untuk bekerja, dalam bidang apapun, dengan mengangkat budaya Indonesia. Termasuk memberikan pilihan profesi di bisnis kreatif," jelas Oscar kepada Kompas Female di sela pembukaan pameran untuk media, Sabtu (7/5/2011) lalu.
Butuh waktu sepuluh hari bagi Oscar untuk menyelesaikan karya seninya. Misi edukasi tergambar dengan tegas melalui gambar motif tenun ikat NTT dalam media kursi. Motif tenun ikat NTT tergambar dengan detil, kaya warna dan sarat tradisi budaya.
Matinya kebebasan berekspresi
Tak hanya Oscar yang gelisah, bahwa penenun kain ikat NTT akan punah jika anak tidak mendapatkan pendidikan budaya. Fotografer fashion, Davy Linggar, mengajak pengunjung memanjatkan harap, agar kebebasan berekspresi dalam dunia fashion tak lagi dibelenggu. Davy menampilkan karya lukisan yang berangkat dari foto, mengadaptasi dari karyanya pada 2005 "Ping Swing Park".
Karya asli "Ping Swing Park", lukisan dengan pose setengah polos bintang sinetron Anjasmara dan model Isabel Yahya, pernah dipamerkan di Museum Bank Indonesia, tapi Front Pembela Islam menganggapnya sebagai pornografi dan harus dicopot. Menurut Davy, lukisan berukuran lima meter tersebut, hingga kini, tak ada di tangannya karena masih menjadi barang bukti di kepolisian.
"Karya saya di pameran ini menggambarkan matinya kebebasan berekspresi di Indonesia. Namun sekaligus juga mengajak orang lain mendoakan semoga kebebasan berekspresi dalam fashion tak lagi dibatasi. Setiap pengunjung pameran, boleh menyalakan lilin di wadah yang tersedia, agar kumpulan lilin tetap menyala hingga pameran berakhir," jelasnya.
Dalam karya instalasinya untuk Dysfashional #6 Jakarta, Davy meletakkan meja dengan puluhan lilin di atasnya. Cahaya lilin inilah yang menerangi adaptasi lukisan dari foto "Ping Swing Park", yang ditempelkan di dinding. Di laci meja, tersedia lilin yang belum dinyalakan, dan bebas diambil pengunjung, untuk dinyalakan dari api yang masih menyala di meja. Dengan begitu, setiap pengunjung bisa berkontribusi, agar lilin tetap menyala hingga Dysfashional resmi berakhir minggu depan.
Kompas Female
Dysfashional #6 Jakarta mengambil tema mode dan fashion, namun tanpa menghadirkan produk fashion dan peragaan busana. Lima seniman Indonesia terlibat dalam pameran seni kontemporer ini, tampil sejajar dengan belasan seniman Eropa lainnya. Jakarta, dipilih dua kurator Italia, Luca Marchetti dan Emanuele Quinz, sebagai lokasi pameran untuk keenam kalinya setelah Luxembourg (2007), Lausanne (2008), Paris (2009), Berlin dan Moskow (2010). Pameran seni kontemporer Dysfashional #6 Jakarta berlangsung 8-15 Mei 2011 di Galeri Nasional Indonesia.
Perancang busana ternama Oscar Lawalata, menampilkan kursi kayu tradisional, yang biasa ditemui di ruang kelas sekolah. Bedanya, sembilan kursi ini bergambar motif tenun ikat Nusa Tenggara Timur, khususnya motif Timor, Sumba, Sabu, dan Alor."Pesannya adalah edukasi. Pendidikan mengenai budaya tidak didapatkan anak sejak kecil. Kursi sekolah melambangkan suasana kelas. Sementara motif tenun ikat pada kursi sekolah ini bermakna pendidikan budaya harus diajarkan sejak dini. Budaya, tradisi, tarian harus diajarkan ke generasi muda. Makna lainnya adalah profesi kreatif juga perlu dikenalkan agar tidak punah, termasuk penenun kain ikat di NTT ini. Anak perlu diajarkan untuk bekerja, dalam bidang apapun, dengan mengangkat budaya Indonesia. Termasuk memberikan pilihan profesi di bisnis kreatif," jelas Oscar kepada Kompas Female di sela pembukaan pameran untuk media, Sabtu (7/5/2011) lalu.
Butuh waktu sepuluh hari bagi Oscar untuk menyelesaikan karya seninya. Misi edukasi tergambar dengan tegas melalui gambar motif tenun ikat NTT dalam media kursi. Motif tenun ikat NTT tergambar dengan detil, kaya warna dan sarat tradisi budaya.
Matinya kebebasan berekspresi
Tak hanya Oscar yang gelisah, bahwa penenun kain ikat NTT akan punah jika anak tidak mendapatkan pendidikan budaya. Fotografer fashion, Davy Linggar, mengajak pengunjung memanjatkan harap, agar kebebasan berekspresi dalam dunia fashion tak lagi dibelenggu. Davy menampilkan karya lukisan yang berangkat dari foto, mengadaptasi dari karyanya pada 2005 "Ping Swing Park".
Karya asli "Ping Swing Park", lukisan dengan pose setengah polos bintang sinetron Anjasmara dan model Isabel Yahya, pernah dipamerkan di Museum Bank Indonesia, tapi Front Pembela Islam menganggapnya sebagai pornografi dan harus dicopot. Menurut Davy, lukisan berukuran lima meter tersebut, hingga kini, tak ada di tangannya karena masih menjadi barang bukti di kepolisian.
"Karya saya di pameran ini menggambarkan matinya kebebasan berekspresi di Indonesia. Namun sekaligus juga mengajak orang lain mendoakan semoga kebebasan berekspresi dalam fashion tak lagi dibatasi. Setiap pengunjung pameran, boleh menyalakan lilin di wadah yang tersedia, agar kumpulan lilin tetap menyala hingga pameran berakhir," jelasnya.
Dalam karya instalasinya untuk Dysfashional #6 Jakarta, Davy meletakkan meja dengan puluhan lilin di atasnya. Cahaya lilin inilah yang menerangi adaptasi lukisan dari foto "Ping Swing Park", yang ditempelkan di dinding. Di laci meja, tersedia lilin yang belum dinyalakan, dan bebas diambil pengunjung, untuk dinyalakan dari api yang masih menyala di meja. Dengan begitu, setiap pengunjung bisa berkontribusi, agar lilin tetap menyala hingga Dysfashional resmi berakhir minggu depan.
Kompas Female
Parfum Kate Middleton Masuk Daftar Tunggu
Kuteks dan parfum yang langsung sold out.
Hanya lima jam setelah Kate Middleton tiba di Westminster Abbey, sebuah perusahaan garmen di London sudah membuat replika gaun pengantinnya. Bahkan begitu ia terlihat di dalam Rolls Royce Phantom VI yang membawanya ke gereja, Alterations Boutique di Marylebone sudah mengidentifikasi seperti apa bahan lace yang digunakan, dan mencoba menemukan padanannya semaksimal mungkin. Hal yang sama dilakukan oleh Faviana, perusahaan gaun malam di New York.
Kini, tak cuma gaun pengantinnya yang diinginkan perempuan-perempuan lain di seluruh dunia. Bahkan kuteks, lipstik, dan parfum yang dipakai Kate pada hari pernikahannya pun laris dicari.
Menurut Clarence House, Kate mengenakan parfum White Gardenina Petals by Illuminum, sebuah brand yang kurang dikenal di Inggris. Parfum tersebut memancarkan wangi kelapa, melati, dan kayu amber. Dalam situsnya, parfum seharga 70 poundsterling (sekitar Rp 989 ribu) ini digambarkan sebagai vas dari bunga-bunga putih yang bergoyang ditiup angin dari jendela yang terbuka. Aroma kelapanya membangkitkan nuansa laut, sementara harum lily, ylang ylang, dan melatinya membawa bunga-bunga putih itu lebih terasa. Sedangkan wangi kayu amber-nya membuat paduan ini menjadi lebih tak terduga.
Kini, brand parfum ini segera menjadi merek yang dicari. Saking larisnya, orang yang ingin membeli parfum berukuran 50 ml itu harus masuk daftar tunggu selama dua minggu. Maklum, parfum kemasan ini sudah terjual habis, hanya menyisakan sedikit kemasan 100 ml.
"Memang ada respons yang fenomenal di seluruh dunia. Pesanan berdatangan dari lusinan negara yang berbeda, tapi kebanyakan dari pelanggan kami datang dari Amerika. Menarik juga rasanya, begitu banyak orang di luar negeri yang tertarik dengan pernikahan ini," kata juru bicara Illuminum,
Michael Donovan.
Brand Illuminum itu sendiri baru didirikan oleh penata rambut selebriti Michael Boadi pada tahun 2007. Ia dikenal sebagai penata rambut Kate Moss dan Naomi Campbell, sebelum meluncurkan parfum dengan namanya sendiri, Boadicea The Victorious. Parfumnya segera populer, bahkan Michelle Obama juga merupakan penggunanya.
Tak heran, Boadi bangga karena Kate memilih produknya. "Saya terharu, benar-benar merasa terhormat," katanya.
Kuteks nude pink
Selain parfum, kuteks Kate yang samar-samar juga membuat banyak perempuan penasaran. Menurut manicurist-nya, Marina Sandoval dari Jo Hansford Salon di London, Kate memilih Allure, kuteks pinky nude dari Essie yang dijual seharga 8 dollar (sekitar Rp 72.000). Kuteks dengan warna tradisional ini dinilai sempurna untuk gaya klasik yang dipilih Kate untuk gaun pengantinnya, dan terlihat manis di depan kamera ketika William menyelipkan cincin ke jemari Kate.
Lilin wangi grapefruit
Westminster Abbey juga memancarkan wewangian yang unik saat pernikahan Kate. The Duchess of Cambridge ini dilaporkan meminta memasang lilin dengan wangi favoritnya. Begitu pula sabun tangan dan losion dengan wangi sitrus. Dengan segera brand wewangian Jo Malone mengirim Orange Blossom, Grapefruit, dan Lime, Basil & Mandarin ke gereja. Semua wewangian ini untuk digunakan di dalam gereja, maupun kamar mandi keluarga kerajaan dan enam kamar mandi tambahan untuk tamu VIP.
Sumber: The Daily Mail
Kompas Female
Hanya lima jam setelah Kate Middleton tiba di Westminster Abbey, sebuah perusahaan garmen di London sudah membuat replika gaun pengantinnya. Bahkan begitu ia terlihat di dalam Rolls Royce Phantom VI yang membawanya ke gereja, Alterations Boutique di Marylebone sudah mengidentifikasi seperti apa bahan lace yang digunakan, dan mencoba menemukan padanannya semaksimal mungkin. Hal yang sama dilakukan oleh Faviana, perusahaan gaun malam di New York.
Kini, tak cuma gaun pengantinnya yang diinginkan perempuan-perempuan lain di seluruh dunia. Bahkan kuteks, lipstik, dan parfum yang dipakai Kate pada hari pernikahannya pun laris dicari.
Menurut Clarence House, Kate mengenakan parfum White Gardenina Petals by Illuminum, sebuah brand yang kurang dikenal di Inggris. Parfum tersebut memancarkan wangi kelapa, melati, dan kayu amber. Dalam situsnya, parfum seharga 70 poundsterling (sekitar Rp 989 ribu) ini digambarkan sebagai vas dari bunga-bunga putih yang bergoyang ditiup angin dari jendela yang terbuka. Aroma kelapanya membangkitkan nuansa laut, sementara harum lily, ylang ylang, dan melatinya membawa bunga-bunga putih itu lebih terasa. Sedangkan wangi kayu amber-nya membuat paduan ini menjadi lebih tak terduga.
Kini, brand parfum ini segera menjadi merek yang dicari. Saking larisnya, orang yang ingin membeli parfum berukuran 50 ml itu harus masuk daftar tunggu selama dua minggu. Maklum, parfum kemasan ini sudah terjual habis, hanya menyisakan sedikit kemasan 100 ml.
"Memang ada respons yang fenomenal di seluruh dunia. Pesanan berdatangan dari lusinan negara yang berbeda, tapi kebanyakan dari pelanggan kami datang dari Amerika. Menarik juga rasanya, begitu banyak orang di luar negeri yang tertarik dengan pernikahan ini," kata juru bicara Illuminum,
Michael Donovan.
Brand Illuminum itu sendiri baru didirikan oleh penata rambut selebriti Michael Boadi pada tahun 2007. Ia dikenal sebagai penata rambut Kate Moss dan Naomi Campbell, sebelum meluncurkan parfum dengan namanya sendiri, Boadicea The Victorious. Parfumnya segera populer, bahkan Michelle Obama juga merupakan penggunanya.
Tak heran, Boadi bangga karena Kate memilih produknya. "Saya terharu, benar-benar merasa terhormat," katanya.
Kuteks nude pink
Selain parfum, kuteks Kate yang samar-samar juga membuat banyak perempuan penasaran. Menurut manicurist-nya, Marina Sandoval dari Jo Hansford Salon di London, Kate memilih Allure, kuteks pinky nude dari Essie yang dijual seharga 8 dollar (sekitar Rp 72.000). Kuteks dengan warna tradisional ini dinilai sempurna untuk gaya klasik yang dipilih Kate untuk gaun pengantinnya, dan terlihat manis di depan kamera ketika William menyelipkan cincin ke jemari Kate.
Lilin wangi grapefruit
Westminster Abbey juga memancarkan wewangian yang unik saat pernikahan Kate. The Duchess of Cambridge ini dilaporkan meminta memasang lilin dengan wangi favoritnya. Begitu pula sabun tangan dan losion dengan wangi sitrus. Dengan segera brand wewangian Jo Malone mengirim Orange Blossom, Grapefruit, dan Lime, Basil & Mandarin ke gereja. Semua wewangian ini untuk digunakan di dalam gereja, maupun kamar mandi keluarga kerajaan dan enam kamar mandi tambahan untuk tamu VIP.
Sumber: The Daily Mail
Kompas Female
Kebaya: Kembali ke Pakem Sederhana
Identitas kemodernan dalam berkebaya, bertumpu pada satu pedoman kunci: kesederhanaan.
Ratusan perempuan hadir Minggu (24/4/2011) lalu di Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah, menyajikan pemandangan nyaris seragam. Mereka berkebaya dengan potongan sederhana. Selendang polos berwarna senada, lengkap dengan kain batik yang diwiron sempurna.
Tentu saja, ingatan melayang ke masa lampau ketika gaya busana seperti itu lekat dengan aktivitas perempuan di berbagai lapisan. Mulai dari ibu negara, istri menteri, ibu-ibu Dharma Wanita, sampai ke para perempuan pedagang di pasar-pasar.
Kenangan itu terbangkitkan kembali malam itu. Perancang kebaya Andre Frankie menggelar karyanya dalam acara bertajuk ”Pesona Untaian Melati Ibu Pertiwi, Mengenang Ibu Tien Soeharto dalam Busana dan Kebaya”.
”Saya terinspirasi dengan Ibu Tien karena beliau itu konsisten dengan kebaya. Misalnya saja, kalau untuk jamuan kenegaraan memang sudah harus memakai kebaya. Tapi banyak juga kegiatan di lapangan seperti acara swasembada pangan, ternyata Ibu Tien tetap mengenakan kebaya sekalipun di sawah. Jadi kebaya itu tidak selalu untuk acara formal, bisa juga untuk sehari-hari,” kata Andre.
Namun, lebih dari itu, acara ini juga ingin menekankan betapa pentingnya menghormati ”pakem” dalam berkebaya. Berdasarkan tradisi berkebaya yang sudah turun-temurun di Indonesia, ada ciri khas yang menjadi ”jiwa” kebaya, yaitu kesederhanaannya.
”Intinya sederhana. Tidak perlu pakai payet dan macam-macam. Bahannya juga sederhana. Saya juga penganut modernisasi kebaya, kok, tapi saya melihat saat ini kesederhanaan kebaya mulai hilang. Padahal kesederhanaan itu mencerminkan keindonesiaannya,” kata Andre pada Kompas.
Sebanyak 15 peragawati kehormatan, di antaranya Andang Gunawan, Anita Chairul Tandjung, Etty Djodi, Miana Sudwikatmono, dan Titiek Soeharto, membawakan busana kebaya dengan rancangan khas, berupa kebaya kutubaru (buka depan dan tutup depan) dengan bef, dilengkapi selendang polos berwarna senada, setagen hitam, dan jarik yang diwiron. Motif kebaya bisa polos atau bercorak, dengan bahan dari beludru, brokat, maupun sifon.
Semua peragawati juga mengenakan sanggul jawa lengkap dengan tusuk kondenya, tas tangan yang diletakkan di dekat siku, kipas tangan, dan selop yang terbuka di bagian jari kaki.
Andre juga menganjurkan kalung tidak dipadankan dengan kebaya, tetapi cukup dengan menyematkan bros yang besarnya sedang di bagian bef, atau bros yang berukuran lebih kecil di bagian selendang. Meski demikian, pengguna kebaya dianjurkan mengenakan giwang, bukan anting.
Ciri modern
Di tempat terpisah, perancang Edward Hutabarat juga melontarkan pandangan senada. Berkebaya modern pada hakikatnya justru harus memperlihatkan kesederhanaan.
”Modern bukan berarti kebayanya harus diobrak-abrik. Untuk menjadi modern, justru si pemakai kebayanya yang harus berpikir modern, kreatif, serta berkualitas. Semua identitas itu kemudian dibungkus dalam penampilan yang sederhana,” tuturnya.
Perancang yang biasa disapa Edo ini berbicara tentang kebaya dalam acara ”“Kebaya Modern, The Less is More” di Museum Tekstil, Jakarta, Kamis (28/4/2011) lalu. Acara tersebut menjadi salah satu rangkaian acara Pameran Koleksi Batik dan Songket Warisan Rahmi Hatta dan Raharty Subijakto yang berlangsung pada 11 April-1 Mei.
Kesederhanaan dua tokoh perempuan inilah yang kemudian menjadi inspirasi Edo sewaktu memperlihatkan lima set padu padan kebaya modifikasi di hadapan undangan yang didominasi ibu-ibu pencinta kain tradisional. Rahmi Hatta, istri wakil presiden pertama Bung Hatta, dan adiknya, Raharty (istri Laksamana Pertama Angkatan Laut Republik Indonesia R Subijakto), dikenal sebagai perempuan yang pandai menjaga citra mereka dengan berpenampilan sederhana namun elegan.
Rahmi dan Raharty termasuk pelopor pemakaian kebaya dan kain sebagai pakaian resmi dan pakaian sehari-hari perempuan Indonesia. Mereka juga turut memopulerkan kebaya kutubaru sebagai pelengkap model yang sudah populer sebelumnya, yaitu kebaya kartini.
Raharty bahkan sempat dikenal sebagai perempuan berbusana terbaik saat suaminya menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Turki. Sementara Rahmi termasuk perempuan yang berani memadukan warna dan motif kebaya dan kain dalam nuansa yang kontras.
”Penampilan Ibu Rahmi selalu simpel, tetapi elegan. Sementara Tante Titi (Raharty) selalu memukau di antara istri-istri duta besar lainnya tanpa perlu rambut disasak dan lain sebagainya,” tutur Edo.
Terinspirasi dari kesederhanaan dua tokoh perempuan inilah, Edo memperlihatkan padu padan kebaya modifikasi dengan berbagai gaya. Pada penampilan pertama, misalnya, Edo membuat kebaya dengan inspirasi kimono. Kebaya bergaya kimono dari kain cina peranakan bermotif bunga pagi sore dipadukan Edo dengan batik madura dari Pamekasan. Meski berupa kebaya, padu padan ini tidak terkesan busana resmi.
Selain kimono dari Jepang, baju tradisional Indonesia, seperti baju bodo dari Makassar, juga menjadi inspirasi Edo untuk membuat kebaya modifikasi. Edo mendesain kebaya kurung dengan potongan sederhana dari lurik bergaris horizontal yang dipadukan dengan kain sarung dari Pekalongan. Pada padu padan lainnya, lurik yang dibuat model jaket dikombinasikan dengan kain bermotif bunga padma karya Iwan Tirta.
”Ketika mindset orangnya modern, seleranya bagus, pasti akan berpengaruh pada penampilan. Jadi ketika ingin terlihat modern, bukan berarti kebayanya harus diubah dan diberi macam-macam,” kata Edo, yang berencana menyosialisasikan berkebaya sederhana ke kota-kota di Indonesia pada tahun ini.
(Myrna Ratna/Yulia Sapthiani)
Sumber: Kompas Cetak
Kompas Female
Ratusan perempuan hadir Minggu (24/4/2011) lalu di Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah, menyajikan pemandangan nyaris seragam. Mereka berkebaya dengan potongan sederhana. Selendang polos berwarna senada, lengkap dengan kain batik yang diwiron sempurna.
Tentu saja, ingatan melayang ke masa lampau ketika gaya busana seperti itu lekat dengan aktivitas perempuan di berbagai lapisan. Mulai dari ibu negara, istri menteri, ibu-ibu Dharma Wanita, sampai ke para perempuan pedagang di pasar-pasar.
Kenangan itu terbangkitkan kembali malam itu. Perancang kebaya Andre Frankie menggelar karyanya dalam acara bertajuk ”Pesona Untaian Melati Ibu Pertiwi, Mengenang Ibu Tien Soeharto dalam Busana dan Kebaya”.
”Saya terinspirasi dengan Ibu Tien karena beliau itu konsisten dengan kebaya. Misalnya saja, kalau untuk jamuan kenegaraan memang sudah harus memakai kebaya. Tapi banyak juga kegiatan di lapangan seperti acara swasembada pangan, ternyata Ibu Tien tetap mengenakan kebaya sekalipun di sawah. Jadi kebaya itu tidak selalu untuk acara formal, bisa juga untuk sehari-hari,” kata Andre.
Namun, lebih dari itu, acara ini juga ingin menekankan betapa pentingnya menghormati ”pakem” dalam berkebaya. Berdasarkan tradisi berkebaya yang sudah turun-temurun di Indonesia, ada ciri khas yang menjadi ”jiwa” kebaya, yaitu kesederhanaannya.
”Intinya sederhana. Tidak perlu pakai payet dan macam-macam. Bahannya juga sederhana. Saya juga penganut modernisasi kebaya, kok, tapi saya melihat saat ini kesederhanaan kebaya mulai hilang. Padahal kesederhanaan itu mencerminkan keindonesiaannya,” kata Andre pada Kompas.
Sebanyak 15 peragawati kehormatan, di antaranya Andang Gunawan, Anita Chairul Tandjung, Etty Djodi, Miana Sudwikatmono, dan Titiek Soeharto, membawakan busana kebaya dengan rancangan khas, berupa kebaya kutubaru (buka depan dan tutup depan) dengan bef, dilengkapi selendang polos berwarna senada, setagen hitam, dan jarik yang diwiron. Motif kebaya bisa polos atau bercorak, dengan bahan dari beludru, brokat, maupun sifon.
Semua peragawati juga mengenakan sanggul jawa lengkap dengan tusuk kondenya, tas tangan yang diletakkan di dekat siku, kipas tangan, dan selop yang terbuka di bagian jari kaki.
Andre juga menganjurkan kalung tidak dipadankan dengan kebaya, tetapi cukup dengan menyematkan bros yang besarnya sedang di bagian bef, atau bros yang berukuran lebih kecil di bagian selendang. Meski demikian, pengguna kebaya dianjurkan mengenakan giwang, bukan anting.
Ciri modern
Di tempat terpisah, perancang Edward Hutabarat juga melontarkan pandangan senada. Berkebaya modern pada hakikatnya justru harus memperlihatkan kesederhanaan.
”Modern bukan berarti kebayanya harus diobrak-abrik. Untuk menjadi modern, justru si pemakai kebayanya yang harus berpikir modern, kreatif, serta berkualitas. Semua identitas itu kemudian dibungkus dalam penampilan yang sederhana,” tuturnya.
Perancang yang biasa disapa Edo ini berbicara tentang kebaya dalam acara ”“Kebaya Modern, The Less is More” di Museum Tekstil, Jakarta, Kamis (28/4/2011) lalu. Acara tersebut menjadi salah satu rangkaian acara Pameran Koleksi Batik dan Songket Warisan Rahmi Hatta dan Raharty Subijakto yang berlangsung pada 11 April-1 Mei.
Kesederhanaan dua tokoh perempuan inilah yang kemudian menjadi inspirasi Edo sewaktu memperlihatkan lima set padu padan kebaya modifikasi di hadapan undangan yang didominasi ibu-ibu pencinta kain tradisional. Rahmi Hatta, istri wakil presiden pertama Bung Hatta, dan adiknya, Raharty (istri Laksamana Pertama Angkatan Laut Republik Indonesia R Subijakto), dikenal sebagai perempuan yang pandai menjaga citra mereka dengan berpenampilan sederhana namun elegan.
Rahmi dan Raharty termasuk pelopor pemakaian kebaya dan kain sebagai pakaian resmi dan pakaian sehari-hari perempuan Indonesia. Mereka juga turut memopulerkan kebaya kutubaru sebagai pelengkap model yang sudah populer sebelumnya, yaitu kebaya kartini.
Raharty bahkan sempat dikenal sebagai perempuan berbusana terbaik saat suaminya menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Turki. Sementara Rahmi termasuk perempuan yang berani memadukan warna dan motif kebaya dan kain dalam nuansa yang kontras.
”Penampilan Ibu Rahmi selalu simpel, tetapi elegan. Sementara Tante Titi (Raharty) selalu memukau di antara istri-istri duta besar lainnya tanpa perlu rambut disasak dan lain sebagainya,” tutur Edo.
Terinspirasi dari kesederhanaan dua tokoh perempuan inilah, Edo memperlihatkan padu padan kebaya modifikasi dengan berbagai gaya. Pada penampilan pertama, misalnya, Edo membuat kebaya dengan inspirasi kimono. Kebaya bergaya kimono dari kain cina peranakan bermotif bunga pagi sore dipadukan Edo dengan batik madura dari Pamekasan. Meski berupa kebaya, padu padan ini tidak terkesan busana resmi.
Selain kimono dari Jepang, baju tradisional Indonesia, seperti baju bodo dari Makassar, juga menjadi inspirasi Edo untuk membuat kebaya modifikasi. Edo mendesain kebaya kurung dengan potongan sederhana dari lurik bergaris horizontal yang dipadukan dengan kain sarung dari Pekalongan. Pada padu padan lainnya, lurik yang dibuat model jaket dikombinasikan dengan kain bermotif bunga padma karya Iwan Tirta.
”Ketika mindset orangnya modern, seleranya bagus, pasti akan berpengaruh pada penampilan. Jadi ketika ingin terlihat modern, bukan berarti kebayanya harus diubah dan diberi macam-macam,” kata Edo, yang berencana menyosialisasikan berkebaya sederhana ke kota-kota di Indonesia pada tahun ini.
(Myrna Ratna/Yulia Sapthiani)
Sumber: Kompas Cetak
Kompas Female
==========================================
====================
Pencarian
====================




