Home » Posts filed under Harus
"Brand Ambassador" Tak Harus Artis Terkenal
Brand ambassador adalah ikon sebuah produk. Selain memiliki tubuh yang sehat dan menarik, seorang brand ambassador juga harus memiliki kompetensi diri yang bisa membuat sebuah produk semakin dilirik konsumen. Brand ambassador akan bertugas sebagai "juru bicara" yang mewakili sebuah brand, untuk mendekati konsumen dengan cara-cara yang lebih menarik.
Banyak perusahaan yang memilih artis-artis terkenal untuk menjadi brand ambassador. Namun hal ini tidak dilakukan oleh Nivea. Setelah melakukan seleksi ketat terhadap 20 kandidat yang berpotensi, akhirnya terpilih pemain harpa Mesty Ariotedjo sebagai Brand Ambassador Nivea pertama yang berasal dari Indonesia, untuk jangka waktu tiga tahun ke depan.
"Kami mencari sosok yang relevan dengan sosok wanita Indonesia. Mesty Ariotedjo mendekati kriteria-kriteria yang kami cari. Dia calon dokter yang multitalenta di bidang musik. Dia aktif di kegiatan sosial, menjadi duta anti rokok untuk yayasan jantung Indonesia, juga duta yayasan musik dan sastra Indonesia. Dia juga aktif di Yayasan Dian Satrowardoyo. Dia memiliki aspirasi, memiliki mimpi. Maka kami memilih Mesty agar menginspirasi wanita-wanita lainnya di Indonesia agar berani bermimpi dan berani mewujudkannya," ujar Nita Jayasaputra, Senior Brand Manager Nivea Body and Sun, saat pemilihan Brand Ambassador Nivea di XXI Club Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (31/5/2011) lalu.
Menurut Nita, Mesty adalah perempuan biasa dengan mimpi yang luar biasa. Misi pribadinya saat ini adalah memperjuangkan asuransi kesehatan bagi kaum yang tidak mampu. Selama ini asuransi kesehatan masih milik orang-orang yang mampu, yang punya pekerjaan. Mesty ingin memperjuangkan hal ini agar orang-orang yang tidak mampu juga bisa memiliki asuransi kesehatan.
Sedangkan misi Mesty bersama Nivea adalah mengampanyekan agar wanita Indonesia mau merawat kulit sejak dini. "Karena dengan kulit yang terawat, wanita akan lebih percaya diri untuk menampilkan dirinya, sehingga bisa meraih apapun yang diimpikannya," ungkap Nita.
Mesty, misalnya, punya senjata andalan berupa body lotion untuk merawat kulit tubuhnya. "Body lotion itu kandungan minyaknya lebih sedikit, sehingga cocok untuk iklim negara kita yang tropis. Sedangkan untuk tangan, karena saya pemain harpa, kadang tangan saya kering dan kapalan, maka saya menggunakan yang krim. Krim memiliki emulsi yang stabil antara air dan minyak sehingga mencegah kulit menjadi kering," jelas perempuan berambut panjang ini.
Ia juga selalu menggunakan produk dengan SPF yang paling tinggi apabila akan melakukan kegiatan yang membuatnya harus terkena sinar matahari langsung. Mengenai masalah kulit, Mesty berpesan agar tidak sembarangan menggunakan body lotion. "Kebanyakan orang asal pakai body lotion, padahal kita harus tahu dulu jenis kulit kita, baru tentukan jenis body lotion atau krim apa yang cocok digunakan di kulit kita," tutupnya.
Sebagai brand ambassador, Mesty akan mengikuti berbagai event yang diadakan Nivea, baik di radio, televisi, maupun media wanita. "Mesty juga akan menjadi juru bicara Nivea untuk acara-acara yang berhubungan dengan marketing, misalnya dengan konsumen di mal-mal atau untuk seminar-seminar yang diadakan Nivea," tambah Nita.
SourceKarya Fashion Harus Realistis
Perancang busana dan aksesori merupakan pencipta yang punya ide dan kreativitas tanpa batas. Tak ada yang bisa membatasi kreasi mereka dalam berkarya. Produk fashion yang diciptakan para perancang selalu punya karakter khas yang menjadi pembeda. Keunikan inilah yang membuat para perancang mendapat tempat di hati penggemar dan pelanggan setianya. Setiap pelanggan punya selera berbeda, dan inilah juga yang membuat setiap perancang tak pernah mati ide dalam berkarya. Karena setiap karya yang dihasilkannya, selalu saja punya peminat setia.
Meski produk fashion kembali kepada selera, namun satu hal yang wajib dipahami para perancang, bahwa fashion harus realistis. Artinya, dari segi konsep dan desain busana, perancang perlu memerhatikan pasar, bahwa karya tersebut bisa digunakan sehari-hari dan memenuhi kebutuhan pasar. Boleh saja bereksplorasi dengan berbagai bentuk kreativitas, namun pastikan pakaian bisa dipakai, dan laku dijual. Ahli mode asal Italia, Massimo Casagrande, berbagi pengalamannya kepada desainer muda Indonesia, peserta workshop "Trend Research & Collection Development". Workshop ini merupakan langkah awal dari penyelenggaraan Jakarta Fashion Week 2012. JFW 2012 sendiri akan digelar pada 12-18 November 2011 di Pacific Place Mal.
Femina Group bekerja sama dengan Instituto Marangoni dan Kementrian Perdagangan Indonesia, menggelar workshop trend forecasting pada akhir April 2011 lalu. Kegiatan ini sengaja digelar untuk memberikan wawasan kepada desainer agar jeli memprediksi tren fashion. Trend forecasting adalah salah satu aspek yang akan menentukan kesuksesan koleksi desain yang akan diluncurkan oleh desainer ke pasar.
Kepada Kompas Female, Massimo mengatakan, desainer Indonesia memiliki talenta, antusias dan memiliki hasrat besar dalam fashion. Talenta dan passion ini, lanjutnya, perlu diikuti dengan kemampuan untuk memasarkan karyanya. Karenanya, saat bertemu dengan desainer Indonesia di workshop tersebut, Massimo menegaskan pentingnya fokus pada segmen pasar tertentu.
"Beberapa desainer masih fokus pada banyak segmen pasar. Sementara, seharusnya, desainer fokus pada market tertentu. Desainer tidak bisa menghasilkan karya untuk lima segmen pasar berbeda. Karena cara ini membuat konsumen akan bingung dengan produknya dan desainer sulit memposisikan produknya. Fokus saja pada satu segmen pasar, konsentrasi dengannya, agar sukses dalam bisnis fashion," jelasnya seusai menjadi pembicara di workshop yang diadakan di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Massimo adalah dosen program S-2 di Istituto Marangoni, sekolah mode dan desain terkemuka yang berpusat di Eropa, dan juga sekolah mode tertua di Italia yang didirikan pada tahun 1935 oleh Giulio Marangoni. Hingga sekarang, Istituto Marangoni memiliki kampus di Milan, London, dan Paris. Langkah JFW 2012 mendatangkan Massimo ke Indonesia, merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas desainer, baik dalam mencipta karya dan memasarkan produknya agar mampu bersaing di industri fashion.
Rancangan unik namun terjangkau
Talenta muda Indonesia di industri fashion terbukti memiliki antusiasme tinggi. Dandan Hamdani, pebisnis ritel dengan pengalaman lebih dari tujuh tahun, meyakini kemampuan desainer lokal dari kalangan muda ini. Dandan memberikan ruang pada desainer ini untuk memajang karyanya di toko fashion IDEA di Mazee, fX Lifestyle Xnter, Jakarta.
Meski desainer bebas menuangkan ide dan kreativitasnya dalam ragam model busana dan aksesori, Dandan selalu tegas memastikan, rancangan busana dan aksesori tersebut harus realistis, dari segi fungsi dan penetapan harga. Artinya, kreativitas desainer dalam merancang busana juga perlu memerhatikan faktor pasar. Bahwa produk fashion tersebut ready-to-wear, berkualitas, berkarakter, dengan harga yang terjangkau oleh pasar.
"Desainer bebas memilih bahan, model, menciptakan rancangan sesuai kreativitas masing-masing, menghasilkan produk yang unik dan berkarakter khas. Namun, mereka harus disiplin mematuhi aturan dalam bisnis ritel, seperti aktif memproduksi koleksi baru dengan mengacu pada pola tren warna. Desainer perlu mengacu pola tren warna, namun soal aplikasi dikembalikan kepada masing-masing perancang," jelas Dandan kepada Kompas Female di sela peluncuran IDEA@Mazee di Jakarta, Jumat (6/5/2011) lalu.
Perancang busana juga perlu memiliki keberanian membentuk karakter jika ingin bertahan di bisnis fashion. Artinya, koleksi busana yang mereka ciptakan sebaiknya berbeda dan punya ciri khas atau keunikan masing-masing. Karenanya, desainer perlu jeli memprediksi dan mencipta tren.
"Perancang dan penggiat bisnis fashion biasanya mampu memprediksi tren enam bulan sebelumnya. Sementara untuk tren sepatu, perubahan tren bergerak lebih cepat, 3-6 bulan. Karenanya, desainer biasanya sudah memproduksi setahun sebelum produk tersebut muncul di pasar," lanjutnya.
Selanjutnya, tantangan bagi desainer adalah menciptakan karya berkualitas, fokus pada segmen pasar tertentu, dan memastikan konsumen mau dan mampu membeli karyanya.
Kompas Female

